Friday, June 14, 2013
Kebun Plasma Tidak Ada Pada Beberapa Perkebunan Swasta
Sepengetahuan saya masih ada beberapa Perkebunan yang tidak memiliki Kebun Plasma untk masyarakat setempat, padahal ada peraturan dari pemerintah yang mewajibkan Perkebunan Besar Swasta untuk mengakomidir sebagian lahannya untuk dijadikan kebun plasma, baik itu berbentuk PIR, KKPA dll. Saya tidak berani untuk menuliskan nama perkebunan swasta tersebut karena saya juga belum mendapatkan data yang detail. Apakah ada diantara anda yang mengetahui ada Perkebunan Besar Swasta lainnya yang tidak memberikan kebun plasma pada masyarakat?
Tuesday, December 25, 2012
Harga TBS Desember 2012 Cukup Rendah
Harga TBS di tingkat petani pada bulan Desember 2012 ini cukup rendah, seperti yang kami ketahui di Kecamatan Batang Toru propinsi Sumut hanya Rp. 700/Kg TBS. Oleh karena itu petani cukup merasa kewalahan dimana ongkos produksi dalam berkebun kelapa sawit tidaklah murah, seperti upah panen, pupuk, pengendalian gulma, pemupukan dan drainase. Maka diharapkan pihak pemerintah bekerja keras untuk menjaga harga TBS nasional terutama di tingkat petani kecil. Kita mengetahui bahwa dari negara-negara eropa dan Amerika Serikat telah melakukan black campaign pada produk TBS kita, yang menyatakan bahwa pengelolaan perkebunan kelapa sawit tidak ramah lingkungan dan merusak hutan hujan tropis, padahal hal tersebut tidak sepenuhnya benar karena masih banyak pengelolaan perkebunan kelapa sawityang sesuai dengan kaidah RSPO, dan jikapun ada perkebunan yang mengelenggarakan pengelolaan perkebunannya yang tidak ramah lingkungan, tugas pemerintah pula untuk menindak tegas demi terjaganya kelestarian alam bumi pertiwi ini.
Sunday, October 30, 2011
Pasar CPO Eropa Masih Bagus
London - Pasar minyak sawit di Eropa kian membaik, seiring dengan hasil pertemuan pejabat Uni Eropa yang menghasilkan rekapitalisasi bank berikut penggunaan stabilitas keuangan Eropa, atau European Financial Stability Facility (EFSF).
Seperti ditulis Reuters, langkah itu dilakukan guna mencegah terjadinya penurunan pasar. Alhasil baik Indonesia maupun Malaysia tetap dapat mempertahankan pangsa pasar di Eropa, lantaran minyak sawit masih merupakan minyak nabati yang termurah. Dikatakan seorang agen minyak sawit asal Malaysia , kondisi pasar minyak .
sawit saat ini tidak terlalu bearish, jika melihat proyeksi produksi terakhir. (Yaniar)
( dikutip dari www.infosawit.com )
SMART Raih Sertifikat RSPO
Jakarta - Pada tanggal 5 september 2011, PT. SMART Tbk resmi meraih sertifikat RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) untuk PKS Padang Halaban berikut rantai pasoknya. (Atep)
( dikutip dari www.infosawit.com )
Monday, October 10, 2011
Moratorium Lahan Kontraproduktif untuk Sektor Perkebunan
JAKARTA - Inpres Nomor 10 Tahun 2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut dinilai kontraproduktif bagi masa depan usaha perkebunan di tanah air. Inpres tersebut tidak saja menghambat ekspansi lahan untuk perkebunan, namun juga dikhawatirkan menurunkan tingkat kesejahteraan petani.
Dalam Inpres yang merupakan tindak lanjut dari penandatanganan letter of intent (LoI) antara pemerintah RI dengan Norwegia tersebut, selain hutan primer, pemanfaatan lahan gambut juga dihentikan pemanfaatannya. Padahal pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian memberikan banyak dampak positif.
“Pemanfaatan lahan gambut terbukti meningkatkan produksi pertanian, menjamin ketersediaan bahan baku untuk industri pertanian, penyerapan tenaga kerja, juga meningkatkan pendapatan petani,” kata Anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Prof Dr Hermanto Siregar yang juga Wakil Rektor IPB dalam Diskusi Terbatas “Kontroversi Pemanfaatan Lahan Gambut: Quo Vadis?” di Jakarta, Jumat (27/5/2011).
Hermanto memaparkan, Indonesia memiliki lahan gambut terluas di antara negara tropis, sekitar 21 juta hektare (ha) yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Di wilayah Asia Tenggara, luas lahan gambut lebih dari 25 juta atau sekitar 69 persen dari lahan gambut tropis dunia. “Sekitar 33 persen dari lahan gambut tersebut dianggap layak dijadikan lahan pertanian,” kata Hermanto.
Selain Hermanto Siregar, tampil sebagai pembicara dalam diskusi ini adalah Ketua Lembaga Penelitian Universitas Riau Prof Usman Tang, guru besar Manajemen Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian IPB Prof Dr Supiandi Sabiham, dan peneliti senior Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Kementerian Pertanian Irsal Las.
Usman Tang juga memaparkan dampak positif pemanfaatan lahan gambut. “Di Kabupaten Indragiri Hilir,Provinsi Riau misalnya, lahan gambut baik untuk pengembangan pertanian dan perkebunan,” katanya. (Sudarsono/Koran SI/wdi)
(diktip dari www.okezone.com)
RI-Brasil Sepakati 6 Agenda Kerjasama Kelapa Sawit
JAKARTA- Sidang Consultative Comitee on Agriculture ke-5 antara Indonesia- Brasil berhasil menyepakati enam agenda yang tertuang dalam Minute of Meeting.
Seperti dikutip dari situs resmi Kementerian Pertanian Minggu (05/06/2011), Minute of Meeting ini menyepakati enam agenda yaitu segera direalisasikannya kerjasama kelapa sawit diantara kedua belah pihak melalui focal point lewat saluran diplomatik. Kedua belah pihak juga tertarik untuk bekerjasama secara teknik dalam Production Technology, Exchange Technology, Adoption Technology of new variety, Improvement of Acid Soil, Land Preparation, Post Harvest and Marketing.
"Selain itu, Brasil juga bisa mengekspor bebek dan kalkun ke Indonesia setelah melalui kajian Pest Risk Analisis (PRA). Indonesia juga menginginkan pertukaran informasi untuk bisa melakukan ekspor salak, manggis, mangga dan alpukat dan Brazil ingin mengimpor apel, anggur, melon, jeruk dan mangga," tulis laporan tersebut.
Indonesia juga menginginkan kerjasama ethanol atau sugarcane khususnya bioethanol industry in policy program and technical cooperation, dan Collaboration on research and variety improvement. Kedua belah pihak juga sepakat untuk segera menandatangani MoU antara Kementerian Pertanian dan The Brazilian Agricultural Research Corporations Mission (EMBRAPA).
Sebagai informasi, sidang CCA ke-5 antara Indonesia-Brasil dilaksanakan akhir Mei lalu di medan Sumatera Utara. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Kerjasama Internasional, Bapak Prof Dr. Tahlim Sudaryanto, dan Delegasi Brasil dipimpin oleh Direktur Negosiasi Sanitary dan Phito Sanitary Kementerian Pertanian, Peternakan dan ketersediaan Pangan Brasil, Mr. Otavio Cancado.
Pertemuan CCA ke-5 ini membahas issue kelapa sawit, kedelai, buah-buahan dan perkarantinaan, livestock, Sugarcane, dan MOU Kementerian Pertanian dengan EMBRAPA, serta Draft Technical Cooperation Projects (TCPs), kelapa sawit dan sugarcane.
(and)
(diktip dari www.okezone.com)
Antisawit Australia Tak Pengaruhi Ekspor Sawit RI
JAKARTA - Walaupun Australia mengeluarkan pernyataan antisawit, hal tersebut tidak memiliki dampak dan pengaruh terhadap ekspor sawit Indonesia ke beberapa negara.
"Enggak ada masalah, karena ekspor sawit ke Australia kecil, hanya sekira seratusan," ungkap Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Pengekspor Kelapa Sawit Indonesia (GPPKI), Fadhil Hasan, saat dihubungi okezone, Kamis (14/7/2011).
Pihaknya menjelaskan, pernyataan tersebut tidak memiliki dampak yang menjadi pengaruh, jika Australia membuat suatu Undang Undang (UU) terkait kelapa sawit.
"Akan menjadi masalah jika mereka membuat UU terkait permasalahan lingkungan yang dihasilkan dari kelapa sawit, dan itu merupakan citra buruk bagi sawit," ungkapnya.
Menurutnya, itu merupakan strategi dari partai yang bersangkutan, persoalan sawit tentang lingkungan sudah ada sejak era 90-an. "Persoalan lingkungan ada sejak 90-an, tapi tidak terbukti," ungkapnya.
Seperti diketahui sebelumnya, Australia mengeluarkan pernyataan antisawit tersebut disebabkan karena dalam minyak sawit terdapat lemak jenuh dengan tingkat yang terlalu tinggi, sehingga membahayakan kesehatan. (ade)
(diktip dari www.okezone.com)
"Enggak ada masalah, karena ekspor sawit ke Australia kecil, hanya sekira seratusan," ungkap Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Pengekspor Kelapa Sawit Indonesia (GPPKI), Fadhil Hasan, saat dihubungi okezone, Kamis (14/7/2011).
Pihaknya menjelaskan, pernyataan tersebut tidak memiliki dampak yang menjadi pengaruh, jika Australia membuat suatu Undang Undang (UU) terkait kelapa sawit.
"Akan menjadi masalah jika mereka membuat UU terkait permasalahan lingkungan yang dihasilkan dari kelapa sawit, dan itu merupakan citra buruk bagi sawit," ungkapnya.
Menurutnya, itu merupakan strategi dari partai yang bersangkutan, persoalan sawit tentang lingkungan sudah ada sejak era 90-an. "Persoalan lingkungan ada sejak 90-an, tapi tidak terbukti," ungkapnya.
Seperti diketahui sebelumnya, Australia mengeluarkan pernyataan antisawit tersebut disebabkan karena dalam minyak sawit terdapat lemak jenuh dengan tingkat yang terlalu tinggi, sehingga membahayakan kesehatan. (ade)
(diktip dari www.okezone.com)
Subscribe to:
Posts (Atom)


